masuknya bekam di Indonesia

Sejarah Bekam

Layanan Bekam jakarta
tempat bekam jakarta selatan
مع اسم الله الرحمن الرحيم مرة أخرى

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesungguhnya Rasulullah SAW pada waktu beliau dimi’rajkan tidak melewati seorang malaikatpun kecuali mengatakan : “Lakukanlah olehmu Hijamah (BEKAM)” (Hadits riwayat At Tirmidzi)

Alhamdulillah, atas doa dan dukungan Bapak/Ibu/Sdr/I kini telah hadir di Pondok pinang,
jl.H.Goden ujung Rt.08/011 no.23B, keb.lama jakarta selatan
Tlp.021-93074811 / 021-98521896 / 0896 37058277
sebuah Pengobatan Tradisional khususnya Thibbun Nabawi (Bekam/Hijamah dan herbal yang disebut dalam

Al-qur’an serta Hadist.
Klinik Assyarif kami dirikan karena :
1. Bagian dari ibadah karena Allah untuk menjalankan sunnah Thibbun Nabawi (pengobatan cara rasul).
2. Terbukti Thibbun Nabawi salah satu cara terapy/ pengobatan yang ampuh, efektif, murah, dan tidak ada efek samping. Bahkan Pada hadits yang sahih Rasulullah bersabda : “Lakukanlah olehmu Hijamah pada rongga kuduk, karena akan menyembuhkan 72 penyakit.”
3. Semakin banyaknya kasus-kasus penyakit yang menyebar di masyarakat, yang ringan hingga akut dan kronik, yang proses penyembuhannya dengan metode pengobatan yang ada terkadang sulit.
4. Terkadang pengobatan medis pun tidak mampu menjanjikan kesembuhan, atau kesembuhan itu bersifat temporal, karena setelah berobat ternyata masih kambuh lagi, atau sembuh tatkala minum obat.
hub.Kami di 021-98521896 /93074811
jadwal praktek : tiap hari jam 09.00-22.00 wib

Layanan dengan multiterapi : Bekam, refleksi, Akupresur, ruqyah, TERAPI LINTAH, Ear candle, dll

Sejarah

Hijamah/bekam/cupping/Blood letting/kop/chantuk dan banyak istilah lainnya sudah dikenal sejak zaman dulu, yaitu kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, Mesir, Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah, beliau menggunakan kaca berupa cawan atau mangkuk tinggi.

Pada zaman China kuno mereka menyebut hijamah sebagai “perawatan tanduk” karena tanduk menggantikan kaca. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah sebagai alat untuk hijamah. Pada satu masa, 40 juta lintah diimpor ke negara Perancis untuk tujuan itu. Lintah-lintah itu dilaparkan tanpa diberi makan. Jadi bila disangkutkan pada tubuh manusia, dia akan terus menghisap darah tadi dengan efektif. Setelah kenyang, ia tidak berupaya lagi untuk bergerak dan terus jatuh lantas mengakhiri upacara hijamahnya.

Seorang herbalis Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A Handbook of Prescriptions for Emergencies menggunakan tanduk hewan untuk membekam/mengeluarkan bisul yang disebut tehnik “jiaofa”, sedangkan di masa Dinasti Tang, bekam dipakai untuk mengobati TBC paru-paru . Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah) , orang-orang di Eropa menggunakan lintah (al ‘alaq) sebagai alat untuk bekam (dikenal dengan istilah Leech Therapy) dan masih dipraktekkan sampai dengan sekarang. [11].

Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan efektif.Disebutkan oleh Curtis N, J (2005), dalam artikel Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Part 1-before antibiotics. Journal of Urology. 173(1):21-26, January 2005. Bahwa catatan Textbook Kedokteran tertua Ebers Papyrus yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di Mesir kuno menyebutkan masalah Bekam. [12].

Hippocrates (460-377 SM), Celsus (53 SM-7 M), Aulus Cornelius Galen (200-300 M) memopulerkan cara pembuangan secara langsung dari pembuluh darah untuk pengobatan di zamannya. Dalam melakukan tehnik pengobatan tersebut, jumlah darah yang keluar cukup banyak, sehingga tidak jarang pasien pingsan. Cara ini juga sering digunakan oleh orang Romawi, Yunani, Byzantium dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan khasiatnya.[13].

Kapan Hijamah dikenal dan berkembang di Indonesia?

Tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode ini masuk ke Indonesia, diduga kuat pengobatan ini masuk seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang menyebarkan agama Islam.[14].

Metode ini dulu banyak dipraktekkan oleh para kyai dan santri yang mempelajarinya dari “kitab kuning” dengan tehnik yang sangat sederhana yakni menggunakan api dari kain/kapas/kertas yang dibakar untuk kemudian ditutup secepatnya dengan gelas/bekas botol. Waktu itu banyak dimanfaatkan untuk mengobati keluhan sakit/pegal-pega di badan, dan sakit kepala atau yang dikenal dengan istilah “masuk angin”.[15].

Tren pengobatan ini kembali berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 90-an terutama dibawa oleh para mahasiswa/pekerja Indonesia yang pernah belajar di Malaysia, India dan Timur Tengah. Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang higienis, praktis dan efektif.[16].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Post comment

What is Persona?